Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) sampai saat ini sudah membuat kontrak impor beras sebanyak 1,23 juta ton dengan pemasok beras di Vietnam dan Thailand.
Direktur Utama Perum Bulog Sutarto Alimoeso mengatakan hal itu saat mengecek harga beras bersama Menteri Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri BUMN Mustafa Abubakar, Menteri Pertanian Suswono dan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu di Pasar Induk Beras Cipinang Jakarta, Kamis pagi [23/12].Sejak Oktober 2010 Perum Bulog menandatangani kontrak impor beras dengan Thailand dan Vietnam. Sampai sekarang jumlah kontrak impor beras dari Vietnam total 800 ribu ton sedang dengan Thailand 430 ribu ton.
“Kontrak terakhir dengan Vietnam 250 ribu ton. Sebanyak 200 ton beras dengan kadar pecah 15 persen dan sisanya kadar pecah lima persen,” kata Sutarto.
Ia menjelaskan separuh dari impor beras masuk bulan ini dan sisanya diharapkan bisa masuk bulan depan. “Sampai sekarang, realisasi impor beras dari Vietnam sudah 450 ribu ton. Hari ini dari Thailand mulai masuk,” katanya.
Saat ini total stok beras Perum Bulog sebanyak 1,42 juta ton dan akan diperbanyak hingga mencapai 1,5 juta ton. “Dan pengadaan dalam negeri hampir dua juta ton, jadi pasokan mestinya aman, cukup untuk penyaluran lima sampai enam bulan mendatang,” katanya.
Panen padi pun, ia melanjutkan, tak lama lagi tiba sehingga pasokan beras dalam negeri tidak akan bermasalah lagi.
Ia memperkirakan, Januari tahun depan sudah ada panen padi sebanyak lima persen dari total produksi tahunan dan panen padi bulan selanjutnya naik menjadi 10 persen sampai 15 persen dari total produksi tahunan. “Dan bulan Maret kita mulai panen raya,” katanya.
Perum Bulog melakukan pembelian beras dari dalam dan luar negeri untuk memenuhi kebutuhan stok beras dan menjaga stabilisasi harga beras.
Menteri Perdagangan mengatakan stabilisasi harga beras antara lain dilakukan melalui Operasi Pasar (OP) beras di daerah dengan kenaikan harga beras lebih dari lima persen.
Menurut Sutarto, pihaknya sudah menyalurkan 30 ribu ton beras untuk operasi pasar beras di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.
Beras OP dijual dengan harga Rp500-Rp700 lebih murah dari harga per kilogram beras di daerah OP. Di Pasar Induk Beras Cipinang, harga beras OP dengan kadar beras pecah 15 persen dijual dengan harga Rp5.825 sampai Rp6.100 per kilogram dan di Pasar Jatinegara beras OP dengan kadar beras pecah lima persen Rp6.500 per kilogram.
Menurut Menteri Perekonomian, kegiatan tersebut sudah bisa menahan harga beras tidak naik. “Di Cipinang, menurut pedagang, setelah tiga minggu OP harga turun Rp300 sampai Rp400 per kilogram dan sekarang tidak naik lagi,” katanya.
Pemerintah, kata Mari, juga menyalurkan beras bersubsidi untuk rumah tangga kurang mampu dalam program Raskin. Setiap bulan pemerintah mendistribusikan sekitar 260 ribu ton beras bersubsidi bagi sekitar 17,5 juta rumah tangga sasaran.
“Itu sama dengan 10 persen dari konsumsi nasional,” katanya. Menteri Perdagangan mengatakan, pemerintah akan menyalurkan beras Raskin bulan ke-13 pada Desember 2010. Upaya itu diharapkan bisa membantu meredam kenaikan harga beras.
“Minimal bulan Desember sudah tidak naik lagi harganya. Dalam dua minggu terakhir ini kami harap sudah stabil dan mulai turun pada Februari karena mulai panen,” katanya.
Menurut data Kementerian Perdagangan, harga rata-rata beras medium nasional pada 22 Desember 2010 sebesar Rp7.174 per kilogram sedang rata-rata harga selama Desember 2010 sebesar Rp7.097 per kilogram atau naik Rp300 dari harga rata-rata bulan sebelumnya.
Harga beras medium tertinggi tercatat di Jambi Rp8.500 per kilogram dan terendah Rp6.000 di Makassar dan Gorontalo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar